Memaknai Hikmah Ramadhan


Ramadhan merupakan bulan mulia bagi umat Islam. Sebab pada bulan tersebut kaum muslimin diberi kesempatan sebanyak-banyaknya melaksanakan amalan dan ibadah sehingga meraih gelar takwa, yakni derajat tertinggi di mata Allah swt. Dalam bulan Ramadhan kaum muslimin berpuasa dan mendirikan malam-malamnya dengan berbagai macam ibadah baik yang wajib maupun sunat. Pada bulan tersebut Allah membukakan seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan bagi hamba-hambaNya.

Banyak sekali keutamaan dalam bulan Ramadhan dengan berbagai macam manfaat dan keuntungan tidak terhingga terutama bagi mereka yang mengimani,memahami dan menghayati makna Ramadhan. Dan yang paling penting adalah hadirnya malam kemuliaan “lailatul qadar” pada salah satu di antara malam-malam Ramadhan dimana beribadah di saat itu nilainya lebih dari 80 tahun umur manusia.

Tetapi ironis, datangnya tamu agung yang dinanti-nantikan tersebut justru disia-siakan oleh sebagian besar saudara kita baik secara sengaja maupun tak sengaja, karena kelalaian, ataupun ketidaktahuan akan hikmah-hikmah yang terkandung dalam Ramadhan. Oleh sebab itu Allah swt hanya memanggil bagi orang-orang yang beriman, karena hanya orang yang mempunyai keimanan dan keyakinan yang kuatlah yang akan sanggup melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Selain itu tidak dapat dipungkiri pada masa bulan Ramadhan budaya konsumtif (pemborosan) sangat kental di tengah kehidupan masyarakat Islam. Pada bulan puasa biasanya porsi makanan dan penganan cenderung bertambah dan beraneka ragam terutama saat berbuka maupun sahur. Mau tidak mau anggaran belanja dapur juga meningkat dibanding hari-hari biasa.

Kebiasaan konsumerisme atau konsumtivisme tidak terjadi pada hari-hari biasa. Biasanya hanya menyediakan makanan ala kadar berupa nasi dengan lauk pauk apa adanya tidak berlebihan, bahkan untuk kebutuhan minum hanya dengan air putih atau air mineral saja.

Fenomena ini sangat kontras dengan makna puasa yang mencakup kesederhanaan, kesahajaan, tidak boros dan berlebih-lebihan. Nilai-nilai tersebut sepertinya tidak tercermin sama sekali dalam perilaku kita ketika (berbuka) puasa dan menyambut hari raya. Penghayatan puasa dengan menahan lapar dan haus di siang hari seolah menjadi sia-sia setelah berbuka puasa dengan lahab menyantap aneka macam masakan dan penganan yang kadangkala jenis dan porsinya sangat tidak masuk akal.

Lalu menahan lapar dan haus terkesan sebagai ajang balas dendam ketika tiba waktu berbuka. Semua keinginan dilepas sehabis-habisnya pada malam hari, sebab beranggapan bahwa berpuasa hanyalah di siang hari Ramadhan. Inilah kesalahan fatal yang tidak atau kurang disadari oleh orang-orang yang berpuasa.
Jika demikian, mampukah Ramadhan menjadi pelajaran bagi kita bagaimana masyarakat yang kurang beruntung hidup dalam kemiskinan dapat kita resapi dan merasakan kepedihan dan kekurangan sebagian saudara kita yang mereka alami selama ini, jangan ibadah puasa hanya sekedar melepaskan kewajiban dan tanpa mengetahui hikmah diwajibaknnya puasa tersebut.

Mudah-mudahan dengan pelaksanaan ibadah puasa ini kita bisa memperoleh hasil yakni rahmat dan ampunan-Nya serta kepedulian dan toleransi kita terhadap sudara yang lainnya akan tumbuh dengan memberikan sedikit harta untuk mereka yang sangat membutuhkan. Semoga kita adalah bagian dari insan muslim yang beribadah secara kaffah baik hubungan kepada Allah swt dan hubungan kita kepada manusia.Amin…

Baca Juga :
Marhaban Ya Ramadhan
Belajar di bulan Ramadhan
Keutaman Lailatul Qadar
Zakat Fitrah

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] itu puasa yang dilakukannya tidak bernilai sama sekali. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, pada bulan Ramadan ada seorang wanita mencaci maki pembantunya. Ketika Rasalullah mengetahui kejadian tersebut, beliau […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: